Rabu, 03 Juni 2020

Aku Frustrasi dan Sempat Ingin Bunuh Diri Karena Dikhianati Kekasihku Sendiri




Langsung, Mas Karjo. Saya barusan dibiarkan oleh orang yang saya percayai. Semasa 5 tahun kami terkait walau kami beda agama. Keinginan saya ialah satu hari kami dapat menaklukkan ego semasing serta putuskan untuk bersama-sama selamanya. Saya bertahan dengannya walau kami LDR (Long Distance Relationship serta Love Different Religion).

Singkat kata, kami sempat terpikir untuk lakukan freesex saja supaya bisa berpadu, berarti harus orangtua kami harus memberikan restu. Walau takut, tetapi sebab telah kelamaan kami bersama-sama karena itu terjadi hal itu. Saya kebetulan ada kepentingan pekerjaan di kota ia, kami juga berjumpa serta lakukan hal itu. Waktu itu ia janji akan bertanggungjawab. Saya juga kembali pada kota saya dengan harap-harap kuatir. Berasa berdosa, takut ia tidak menepati janji, dan lain-lain.

Tetapi, ada suatu hal yang rupanya disembunyikan oleh pacar saya sejauh ini. Saya baru tahu sebelum kita putus, rupanya ia telah mempunyai kekasih lain di kotanya. Mereka telah terkait semasa 2 tahun. Serta telah mengenalkannya ke orangtua semasing sebab mereka satu agama.

Saya tahu karena feeling saya yang tajam serta terakhir dapat dibuktikan. Waktu tahu itu, saya betul-betul terpukul. Hilang akal serta emosi, saya memberitahukan wanita itu mengenai semua termasuk juga seberapa jauh hubunganku serta sang bekas. Awalannya wanita itu geram, ia pilih putuskan jalinan dengan sang bekas. Ketetapannya itu membuat sang bekas geram pada saya.

Sampai disana saya betul-betul bingung. Apa memiliki hak ia geram pada saya, sesaat di sini saya ialah korban. Saya dikelabui semasa dua tahun. Walau di saat itu kami melakukan sebab sayang, tetapi tetap saya berasa tidak adil diperlakukan semacam ini. Saya berasa saya yang dirugikan, saya juga yang dibiarkan.

Karena begitu geram, saya memblok kontaknya. Saya perlu waktu untuk menentramkan diri. Eh, waktu saya siap untuk bicara serta ingin tahu semakin jelas, ia justru memblok semua contact saya serta sang wanita itu pilih kembali ke sang bekas.

Saya sedih serta hancur lagi. Saya tidak menduga ia tega lakukan itu pada saya. Mendustai perasaan, ambil kehormatan saya, selanjutnya tinggalkan saya dalam cedera yang teramat dalam. Ditambah ia akan menikah dengan wanita itu. Saya berasa cedera saya seperti diberi garam. Perih sekali sampai rasa-rasanya ingin bunuh diri.

Ya. Hari pertama tahu hal tersebut saya ingin sekali akhiri hidup ini. Saya dihancurkan semacam ini ditengah-tengah epidemi corona yang mewajibkan saya kerja di rumah. Saya tinggal di perantauan yang jauh dari keluarga. Saya betul-betul seorang diri di kota ini.

Ditambah permasalahan hati yang benar-benar menyayat hati saya. Rekan-rekan saya beberapa ada yang tiba menghibur, tetapi saya ketahui sesudah mereka pulang, cedera ini kembali lagi menganga serta minta untuk disudahi. Seperti hidupku.

Apakah yang harus saya kerjakan, Mas Karjo?

~Falisha

Waalaikumussalam.

Dear Falisha.

Awalnya, saya ikut prihatin serta bersimpati atas apakah yang telah kamu alami.

Pendapat pertama serta penting dari saya tentunya ialah buang jauh kemauanmu untuk bunuh diri. Bunuh diri ialah pilihan yang benar-benar jelek. Kamu tetap harus hidup. Bunuh diri cuma akan mengubur kesedihanmu bersama-sama jasadmu, tetapi dia akan melahirkan kesedihan-kesedihan lain yang akan tinggal bersama-sama keluarga serta beberapa orang yang kamu cintai.

Kamu dapat coba membuka web ini untuk semakin memberikan keyakinan diri kamu jika kamu bernilai serta tidak patut untuk dibunuh oleh siapa juga, termasuk juga oleh diri kamu sendiri.

Falisha, kamu ialah wanita yang baik. Saya percaya akan ini. Serta mantanmu (mudah-mudahan telah resmi jadi bekas) itu ialah lelaki yang jelek. Kembali lagi, saya percaya akan ini. Lelaki yang jelek tidak wajar mendapatkan wanita yang baik seperti kamu. Satu kali lagi, saya percaya akan ini.

Falisha yang baik. Hidup ini sarat dengan hal yang tidak disangka. Sering makna ada dari runtutan momen yang menyakitkan. Bisa jadi, apakah yang kamu alami ini ialah diantaranya. Dapat jadi, masalah berat yang telah kamu alami itu ialah langkah Tuhan untuk memberitahu jika mantanmu bukan lelaki yang baik bagimu.

Semesta sudah menolongmu untuk terlepas dari lelaki yang bedebah itu, serta kamu harus mensyukurinya.

Kamu tetap harus bahagia. Itu langkah paling baik serta paling ciamik untuk mensyukuri hidup sekaligus juga "membalas sakit hati" pada mantanmu yang jelek itu. Masak ia dapat bahagia menikah sedang kamu justru larut dalam duka cita. Jangan dibiarkan itu berlangsung. Enak saja.

Kehilangan keperawanan memang hal yang berat buat banyak wanita, tetapi kamu harus juga ingat, keperawanan bukan segalanya. Kamu masih punyai banyak nilai lain dalam diri kamu.

Ada banyak lelaki yang serta tidak sempat mempersoalkan kamu masih perawan atau mungkin tidak. Banyak lelaki yang semakin perduli pada kepandaianmu, perduli pada perilakumu, perduli pada caramu memperlakukan mereka, perduli pada begitu membahagiakannya diri kamu waktu melakukan komunikasi, serta perduli pada apa yang ada di diri kamu.

Dapatkan lelaki itu, serta hiduplah dengan bahagia. Buat mantanmu yang jelek itu menyesal 1/2 mampus sebab sudah wafatkanmu.

Falisha yang baik. Tentunya balasan sharing ini tidak ada perbedaannya dengan kawan-kawanmu, yang cuma akan menghiburmu sesaat, tetapi selanjutnya pulang. Tetapi yang pasti, saya mengharap, balasan sharing ini dapat jadi satu diantara banyaknya fakta penguat bagimu, supaya kamu masih hidup, supaya kamu bangun, serta supaya kamu ingin cari kebahagiaan yang baru.

Membongkar Sindikat Yakult Lady: Sang Ahli Susur Gang-gang Perumahan



Bukannya sebatas jualan, Yakult Lady memang harus jaga hubungan dengan konsumen setia. Manfaatkan perasaan fundamen ibu-ibu yang menyukai ‘srawung' tuturnya.

Jika lihat kehadirannya yang hampir dapat kita dapatkan dimana saja, bisa disebut Yakult saat ini sudah jadi minuman probiotik paling terkenal di Indonesia.

Serta, menurut South China Morning Post pada 2018 lalu, Hideki Maruyama dari Yakult's Public Relations Departement mengatakan jika negara kita ini termasuk juga pasar luar negeri paling sukses Yakult.

Tetapi apa kalian tahu? Dibalik melesatnya merek asal Jepang itu ada beberapa wanita terbiasa sebagai garda depannya. Serta mereka diketahui dengan panggilan "Yakult Lady".

Tentunya, sebab gunakan kata lady, karena itu Yakult Lady pastinya sejenis kelamin wanita. Jika ada versus bapak-bapaknya kemungkinan dikatakannya Yakult Daddy, hehe. Garing ya? Maklum, namanya guyon bapak-bapak.

Asal situ tahu, seorang wanita sebagai Yakult Lady tiap hari harus kerja semasa lima jam. Tiga jam saat pagi serta dua jam waktu sore hari.

Pekerjaan mereka nganterin Yakult entahlah itu ke kantor kecamatan, toko kelontong, lembaga pendidikan, pijet plus-plus, rumah masyarakat biasa, pos satpam, intinya dimana saja. Pokoknya, sesuai dengan daerah sebagai tempatnya bekerja.

Walaupun tawarkan produk dengan cara door-to-door, tetapi performa Yakult Lady tidak seperti SPG biasanya yang pakainnya seringkali duhai. Yakult Lady hanya berseragam berbentuk topi, baju, celana, serta beberapa ada juga yang berhijab.

Baju Yakult Lady didominasi motif kotak-kotak berwarna merah serta putih, seperti topinya. Sesaat celananya hanya berwarna merah jelas saja. Disamping itu, aksesori lain seperti hijab atau sarung tangan warnanya relatif bebas.

Yakult Lady punyai sasaran pemasaran yang perlu dipenuhi sehari-harinya. Namun sasaran itu tidak demikian mencekik, karena masih sesuai dengan kekuatan individu semasing. Ada yang /hari sasaran 400 botol, ada yang 500, yaaa beberapa macam.

Pada saat kerja, Yakult Lady umumnya tidak hanya jualan produk, tetapi ikut juga srawung. Coba makin dekat sama beberapa konsumen setia. Hal jenis gini seperti sudah jadi konsep fundamental beberapa Yakult Lady.

Tetapi, berupaya merajut keakraban dengan beberapa orang faktanya tidak segampang mengorek upil. Seringkali Yakult Lady merasakan pengalaman-pengalaman unik sekaligus juga gemblung dalam mengaplikasikan konsep penting kerjanya.

Sama seperti yang dikatakan Yakult Lady asal Karangwaru Lor, Tegalrejo, Yogyakarta, contohnya. Namanya Refelina Ayu Susanawati (24) atau biasa dipanggil Refel saja. Refel mulai kerja untuk Yakult Lady semenjak 8 Maret 2019.

Pertama kalinya jadi Yakult Lady, pekerjaan Refel tidak cuma mengantarkan minuman, dan juga cari konsumen setia baru alias mbabat alas di seputar teritori Pogung, Pandega Marta, sampai Monjali.

Saat mbabat alas, Refel dikawal dan dilatih oleh staf Yakult serta Yakult Lady senior semasa 5 minggu pertama. Baru sesudahnya, dia dapat berlaga sendirian.

Tetapi sebab pelupa berat, Refel pernah alami sedikit kesusahan pada awal-awal profesinya untuk Yakult Lady. Ya, kesusahan remeh seperti sulit mengingat di blok mana saja konsumen setia yang telah dikunjungi di hari awalnya.

Serta sempat insiden, Refel langsung nyelonong pergi bersepeda motor demikian saja tanpa ada menyerahkan Yakult-nya benar-benar, walau sebenarnya orang yang membeli sudah memberi uang ke dianya. Untung saja sang konsumen setia hatinya sedang baik jadi tidak terkena timpuk sandal kempit.

"Yowes, akhire wonge njlaluk Yakult," kata Refel sekalian ketawa, sekalian menerangkan jika ia pada akhirnya harus puter balik. Yaiyalaaah, jika tidak puter balik itu penipuan namanya, Feeeel.

Kecuali seringkali lupa yang kronis, Refel terkadang harus sabar hadapi konsumen setia-pelanggannya. Seperti sempat ada seorang nenek-nenek yang membeli 10 botol Yakult darinya. Sebab uang yang diberi nenek itu beberapa 20 ribu, Refel juga memberikan kembalian 3 ribu.

Tetapi sesampainya di dalam rumah, saat hitung pendapatannya hari itu, Rafel baru mengetahui jika uang 20 ribu dari nenek itu rupanya uang mainan.

"Tetapi ya saya tidak katakan apa-apa, saya ikhlaskan saja," katanya.

Walau demikian, apakah yang dirasakan Refel masih cukup mendingan. Minimal, dia dapat menghibur diri dengan yakini jika sang nenek-nenek itu telah sulit memperbedakan mana uang asli dengan uang mainan punya cucunya.

Tidak sama dengan Rusminah Qumainah (34). Seorang Yakult Lady yang kerja di daerah Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Bu Mimin (biasa dipanggil demikian emang), mulai memperdalam pekerjaan untuk Yakult Lady di akhir 2017.

Dalam satu hari yang cerah, serta Bu Mimin sempat mendapatkan sambutan yang begitu positif dari konsumen setianya sampai buat dianya auto-AFK. Mematung lumayan lama sebab karena sangat kagetnya.

Jadi ceritanya, Bu Mimin datangi satu rumah. Demikian mengetuk pintu, dari di rumah keluar seorang bapak-bapak. Yakult yang dibawa juga selekasnya ditawarin ke bapak-bapak itu. Namun, bukanlah ingin membeli, sang konsumen setia ini justru menjawab hal yang blas tidak akan teringat orang normal.

"Saya tidak mau membeli. Saya ingin mbaknya saja. Kebetulan istri saya sudah lama tidak ada. Jika mbaknya janda, mending kawin sama saya!"

Buset, ini dipikir Take Me Out Indonesia versus door to door apa bijimana, Paaak?

Dengar ajakan kawin yang ujug-ujug semacam itu, jelas Bu Mimin terkejut.

"Maaf, saya cuma nawarin Yakult saja, Pak. Jika tidak ketertarikan, tidak apa-apa. Kemungkinan, lain waktu kelak Bapak ingin membeli. Saya lawatan satu minggu sekali, permisi ya, Pak," tutur Bu Mimin menampik halus lalu pergi dengan santuy.

Serta semenjak hari itu, Bu Mimin tidak sempat lagi berkunjung ke rumah itu. Untuk selama-lama-lama-lama-lamanya.

Pada saya, wanita yang telah mempunyai dua anak itu bercerita pengalamannya sekalian berseloroh. "Coba, Mas, bayangin," tuturnya, "jika misalnya wanita single muda yang dibawa kawin oleh bapak-bapak duda walau sebenarnya mengenal saja tidak. Wah, ya tentu kapok."

Lepas pengalaman dari aneh yang sempat didapatkan Bu Mimin, karier Yakult Lady sudah memberikannya peluang jadi tembok ratapan, alias rekan berkeluh-kesah beberapa konsumen setianya.

Terkadang justru narasi konsumen setia itu begitu personal sampai kepentingan rumah tangga atau justru ikutan jadi mengakhiri permasalahan keluarga konsumen setia. Seperti saat Bu Mimin jadi harus menolong seorang konsumen setia yang akan melahirkan—misalnya.

"Saya terharu dong. Terkadang kan kita mikir kita ini hanya kerja agar bisa uang atau upah, tetapi rupanya sesudah ditempuh, banyak beberapa hal kecil yang bermakna serta semuanya tidak dapat dihitung cukup dengan materi," tutur Bu Mimin bangga.

Sesudah kira-kira 3 tahun jadi Yakult Lady, sekarang Bu Mimin bisa memaknai mengapa Yakult jadikan wanita, khususnya ibu-ibu rumah tangga, untuk ujung tombak bisnisnya. Selain Yakult yang punyai arah pendayagunaan wanita, menurut Bu Mimin sendiri ibu-ibu mempunyai ciri-ciri yang ciri khas.

"Ibu-ibu itu gampang bercampur dengan warga, Mas," dia menerangkan.

"Gampang dekat. Terus, ibu-ibu itu kan senang ngomong. Apalagi jika sudah pas. Dengan orang yang terkadang tidak diketahui atau baru mengenal saja dapat ramai sekali ngobrolnya. Jadi dengan sedikit pelatihan, ibu-ibu yang dasarnya memang komunikatif ini dididik supaya bisa melakukan komunikasi dengan cara efisien. Sampaikan mengenai kesehatan pada warga serta keutamaan minum Yakult."

Sikap ramah beberapa Yakult Lady itu yang terkadang buat konsumen setia sering tidak sungkan untuk meminta tolong. Baik itu dari mulai beberapa hal sepele seperti membeli kecap serta bensin, sampai menolong orang melahirkan.

Tetapi untuk alternatifnya, mereka juga pada akhirnya mendapatkan rasa keyakinan yang demikian besar dari beberapa konsumen setia. Serta, seringkali juga, konsumen setia memandang mereka seperti keluarga sendiri hingga dapat informasi darurat dari tangan orang pertama. Serta bukan mustahil rahasia dapur ibu-ibu rumah tangga se-Indonesia berada di tangan mereka.

Tuyul Nggak Ada Akhlak Gagal Maling Karena Aku Nggak Punya Duit



Sampai saat ini, saya ingin tahu, tuyul pergi itu sebab takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya yang tidak punyai uang, ya.

Suara azan subuh menggugah tidur nyenyakku. Waktu itu, saya lagi rajin-rajinnya turut Simbok salat di masjid. Jarak rumah ke arah masjid tidak jauh. Tetapi, sedikit yang ingin turut salat subuh di masjid sebab jalanan yang sepi sekali. Maklum, desa saya berada di wilayah perbukitan yang berasa wingit.

Jalan yang saya serta Simbok biasa lalui gelap sebab tidak ada lampu jalan. Sumber sinar yang remang-remang itu datang dari lampu rumah tetangga. Udara waktu subuh benar-benar dingin membuatku bergidik. Simbok saya itu jika jalan cepet sekali, seringkali buat saya tertinggal, serta jadi tidak tenang.

Subuh itu sama dengan subuh sebelumnya. Gelap, sepi, dingin, serta Simbok berjalan cukup jauh di depanku. Saat sampai dalam suatu pertigaan, saya lihat tiga anak kecil berjalan ke arah rumah tetangga di samping kanan jalan. Disamping itu, jika ingin ke masjid, belok kiri. Simbok yang berjalan bertambah cepat tidak lihat tiga anak kecil itu.

Tamu? Tetapi, kok, anak kecil semua. Jam segini lagi. Waktu itu saya belum mengetahui jika akan dibuat jengkel sama tuyul.

Sesudah memperhatikan sesaat, saya belum teringat jika akan terkena apes. Saya justru memikir seperti gini: wah, kasihan ada tiga anak kecil yang keliatannya ketidaktahuan ingin masuk ke rumah. Jadi saya putuskan untuk menolong mereka.

"Simbok, riyen mboten nopo-nopo. Kulo ajeng ting Ardi riyen. Onten tamu, kintene mboten ngertos," kataku sekalian 1/2 berteriak kea rah Simbok. Oya, Ardi itu bukan nama sebetulnya, ya.

Translate-nya:

(Simbok lebih dulu tidak apa-apa. Saya ingin ke Adi dahulu. Ada tamu, kelihatannya tidak tahu)

"Yo gek wis, Pak Riset wis arep komat." (Ya cepetan, Pak Haji ingin komat) Jawab Simbokku. Kalian tahu komat kan? Yang khaya ngalashola kira-kira semacam itu.

Pada akhirnya saya mengejar ke-3 anak kecil itu. Pertama lihat ke-3 bocah itu saya ketawa ngakak. Bisa-bisanya bocah sekecil itu tidak menggunakan pakaian. Serta sporot juga tidak digunakan. Kalian tidak tahu sporot? Itu, lho, kaos dalam, ndeso ah.

Muka mereka belepotan pupur bayi. Pikirku, apa ya Ardi sewa badut bocah untuk rayakan ulang tahun adiknya. Eh, jika dipikirkan ulang tahun adiknya masih lama.

"Dek, arep bertemu Ardi po?" (Dek, ingin berjumpa Ardi ?)

"Uang," jawab bocah itu. Ke-3 bocah itu nyengir memperlihatkan gigi kelincinya ke arahku. Seram sekali ternyata. Mulutnya tersenyum lebar ke arahku. Ketiganya mempunyai wajah yang sama.

Bocah itu maju ke arahku dengan tempat tubuh memunggungiku. Seperti undur-undur saja. Saya juga mundur alon-alon. Mereka meningkatkan tangannya seperti ingin minta suatu hal.

"Uang."

"Saya ora tahu koe. Arep nopo njaluk uang" (Saya tidak paham kamu. Ingin apa minta uang?). Saya membulatkan tekad menanyakan semacam itu.

Semua bocah itu ngakak sejadi-jadinya. Mereka membalikan badan menatapku. Sumpah muka mereka seram sekali. Pupur bayi yang tidak rata, kepala gundul, suara tertawa yang seram sekali, serta tangan berkulit pucat yang terus teracung meminta uang.

"Koe tuyul jebul. Laa…ah a…ku wedi tenan. Mbooo…ook saya tahu tuyul!!!" Saya lari sekencang-kencangnya pulang ke rumah. Ke-3 tuyul itu cekikikan lihat saya lari terbirit-birit.

Sampai di dalam rumah saya masih gelagapan. Simbokku menanyakan mengapa saya pulang lebih dulu. Tetapi tidak kujawab. Saya masih tidak yakin apakah yang saya melihat barusan. Pada akhirnya saya salat subuh di dalam rumah serta akan meneruskan tidur saja. Sebab saat itu hari libur.

Saya melihat jam di ruangan tamu. Saat ini jam 1/2 lima semakin delapan menit. Kelihatannya saya akan menanti pagi. Pada akhirnya saya putuskan untuk melihat film di ruangan tamu.

Awalnya saya ambil guling dari kamarku. Waktu akan ambil guling, saya dengar suara sandal ditarik. Srek srek srek.

Saya melihat ke belakang tetapi tidak ada apa-apa. Lalu saya mengambil guling itu. Tetapi seperti ada yang meredam. Lalu ku tarik paksa guling itu serta justru membuatku jatuh tersuruk menghadap kolong tempat tidur. Perlahan-lahan saya dengar cekikikan seorang anak kecil. Saat itu juga saya ingat sang tuyul itu.

"Baaaa!" Aseeeem tuyul itu mengagetiku. Spontan saya memukulnya gunakan guling. Sekalian menangis sejadi-jadinya sebab takut. Lalu saya lari ke ruangan tamu.

Saya meneguk satu cangkir teh untuk menentramkan jantungku.

Kreit…kreit…ahihihii' Saya kaget lagi serta lari ke kamarku.

Apes. Rupanya tuyul itu justru di kamarku. Saya menjerit keras "Tuyul!!"

Tuyul itu ketawa. Satu diantara mereka menakutiku serta yang dua buka almariku.

"Ra ono uang" (Tidak ada uang) kata salah satunya tuyul itu.

Dengan terbata-bata saya membacakan ayat bangku dengan keras. Mereka justru asyik mengobrak-abrik isi almariku. Fundamen tuyul apa tidak tahu sama yang namanya ayat bangku ya. Tuyul tidak ada akhlak.

Sekalian gemetaran saya terus meneruskan membacakan ayat bangku untuk menghancurkan tuyul menyebalkan itu. Sampai di tengah ayat ada sedikit keberanianku. Saya makin jadi membaca ayat kursinya.

Entahlah bagaimana, kombinasi rasa takut sama kesal, saya justru jadi geram. Sekalian baca ayat bangku, saya mendelik seperti penari bali. Eh, mereka balik mendelik. Saat kami sama-sama mendelik, salah satunya tuyul katakan:

"Kapoook saya kapok. Ra ono uang, ra ono uang". Sesudah mengatakan semacam itu, tuyul tidak punyai sopan santu itu pergi. Dua tuyul gundul bekasnya lalu mengejar. Sampai saat ini, saya ingin tahu, mereka pergi itu sebab takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya yang tidak punyai uang, ya.


Tips Buat Lelaki Bertampang Jelek Biar Bisa Punya Pacar





Selamat malam. Di waktu epidemi seperti saat ini, perkenankan saya untuk berkeluh kesah pada Mas Agus. Saya ingin sharing mengenai permasalahan sulit yang sedang saya menghadapi serta saya percaya Mas Agus punyai jalan keluar atas permasalahan saya ini.

Jadi ini, Mas Agus. Singkat saja. Saya ini lelaki yang punyai tampang tidak cakep-cakep sangat (tidak untuk mengatakan buruk). Yah, sebelas-dua belas lah sama Mas Agus. Saya sebelasnya, Mas Agus dua belasnya.

Tampang saya yang tidak cakep ini benar-benar membuat pengalaman asmara saya benar-benar tertinggal jauh dibanding teman-teman sepantaran saya. Teman-teman saya lainnya telah pacaran, saya masih jomblo. Teman-teman lainnya telah laris menikah, saya masih sama, tetap jomblo. Walau sebenarnya saat ini umur saya telah 27 tahun. Apa tidak ngenes itu.

Saya sampai berasa sempat benar-benar putus harapan. Jangan-jangan sampai kapan juga, saya tidak akan punyai pacar sebab muka saya yang tidak cakep-cakep sangat ini.

Benar-benar, setiap saat saya dengar ada kawan saya yang putus dan dapat dengan gampang memperoleh alternatifnya, saya berasa benar-benar iri. Lha bagaimana, jangankan putus, untuk sebatas menyambung saja saya tidak pernah.

Sampai saat ini, saya tidak sempat berani tembak wanita yang saya senang sebab saya percaya, muka saya yang tidak cakep ini tentu akan usai pada penampikan.

Nah, Mas Agus. Sampeyan kan mukanya tidak cakep-cakep sangat, tetapi dapat dibuktikan dapat punyai pacar serta saat ini telah menikah. Kurang lebih, apa Mas Agus punyai resep, atau rahasia, atau seperti panduan untuk saya ini supaya bisa punyai pacar.

Minta pencerahannya ya, Mas Agus.

~Toni

Dear Toni, awalnya, saya ingin menyanggah pengakuan Sampeyan yang katakan jika tampang sampeyan sebelas-dua belas sama saya. Karena, waktu saya lihat muka Sampeyan di avatar e-mail Sampeyan, saya berasa kita punyai gap yang cukup jauh. Iya, kita saling buruk, tetapi tidak sebelas-dua belas . Ya sebelas-sembilan belas lah. Saya masih semakin lebih cakep daripada Sampeyan.

Oke, saat ini langsung saya balas saja, ya. Ini murni jawaban arif dari seorang bertampang buruk untuk seorang buruk yang lain.

Ini. Wanita remaja memang menyenangi lelaki bertampang cakep, tetapi makin menua, makin dia sadar jika tampang cakep bukan hal yang mutlak.

Wanita akan melihat beberapa hal, dimana tampang hanya sejumlah kecil. Terdapat beberapa nilai yang paling utama buat seorang wanita. Mulai dari sikap, hasrat komedi, situasi finansial, komunikasi, kepandaian, serta beberapa hal lagi yang lain.

Jadi, bila sampeyan punyai tampang yang tidak baik-baik saja, karena itu Sampeyan harus pastikan jika Sampeyan dapat memaksimalkan nilai-nilai lain yang dapat menarik wanita.

Jadilah lelaki yang kaya. Jika tidak dapat, jadilah lelaki yang membahagiakan. Jika tidak dapat, jadilah lelaki yang humoris. Jika tidak dapat, jadilah lelaki yang pintar. Sampeyan bisa pilih salah satunya, atau salah dua, atau makin komplet makin baik.

Tetapi ada satu hal penting yang mutlak harus Sampeyan lihat. Jadilah lelaki yang dapat jadi tempat berkeluh kesah yang baik.

Lelaki itu melihat dengan mata, sedang wanita melihat dengan telinga. Wanita condong berasa bahagia waktu dia berjumpa lelaki yang membuat nyaman waktu menceritakan. Lelaki yang dapat dengarkan secara baik.

Jika ini telah Sampeyan punya, pasti, tampang Sampeyan dapat termaafkan.

Nah, jika telah, janganlah lupa untuk memperlebar pertemanan. Anda harus menyebar jala seluas-luasnya. Terdapat beberapa wanita yang punyai daya pemaafan yang tinggi untuk tampang Sampeyan. Pekerjaan Sampeyan ialah mendapatkan satu saja.

Aktiflah serta jangan jadi pendiam. Jadi pendiam itu cuma bagus buat lelaki cakep. Jika buat lelaki buruk, karenanya makin menyepurnakan kejelekannya.

Jangan sampai takut untuk mengutarakan rasa Sampeyan. Jika tidak diterima, mencari wanita lain, tembak lagi. Jika masih tidak diterima , mencari wanita lain, lalu tembak lagi.

Saya jadi ingat dengan jawaban seorang aktor ternama Amerika (saya lupa siapa namanya) waktu diberi pertanyaan bagaimana dia dapat berkencan dengan beberapa wanita. Jawaban ia sederhana serta simpel. "Saya meminta demikian saja. Terkadang saya ditampar, terkadang saya diludahi, tetapi terkadang kami usai di restoran romantis untuk makan malam, beberapa salah satunya serta usai di kamar yang empuk."

Pokoknya, jangan sampai takut untuk mengutarakan rasa. Bagaimana ingin punyai pacar jika serta tembak saja tidak sempat.

Ngobrol Bareng Tentara AD: Tutorial Nyuci Tank yang Baik dan Benar dari Ahlinya



Bagaimana langkah nyuci tank yang benar dan baik? Apa tentara perlu sabun spesial atau hal istimiwir yang lain? Serda Aries Soeparno berceritanya untuk Anda.

Pekerjaan tentara tidak selalu harus suatu hal yang ada urusannya sama pegang senjata. Ada yang punyai pekerjaan di dapur, pekerjaan di administrasi, sampai jadi tukang kebun. Kegiatan rutin buat tentara-tentara yang tidak mempunyai pangkat tinggi.

Nah, ini selanjutnya buat kami ingin tahu, bagaimana sich pekerjaan-tugas tentara berpangkat biasa saja yang jauh dari meja kantor?

MOJOK bisa kelebihan untuk bercakap enjoy lewat telephone dengan Serda Aries Soeparno. Figur yang ikhlas share cerita unik waktu bekerja di pangkat terikuth saat awal meniti profesi prajurit Angkatan Darat.

Yuk kita langsung gaaas.



Mengapa dahulu tidak teringat jadi polisi saja, Pak?

Ya harapan dari kecil memang ingin jadi tentara.

Orangtua tentara ya?

Tidak. Pedagang. Dagang mie ayam. Dahulu di Timor Timur jualan nasi bungkus. Kebetulan jualin ke pasukan-pasukan tepian di Dili.

Oh, dimulai dari jualan nasi bungkus ke tentara lalu jadi teringat ingin jadi tentara?

Iya. Ya kan dari kecil itu saya tidak ingin menyusahkan orangtua (dengan ongkos sekolah/kuliah). Jadi teringat ingin langsung coba daftar tentara. Jadi memang tidak ada pemikiran masuk polisi. Ya benar-benar ingin masuk jadi tentara saja.

Masuk tentara itu memang betulan gratis tis ya?

Iya.

Sebentar-sebentar, kembali ke pengalaman yang di Dili itu. Saat itu Anda bermakna sedang ada di keadaan perselisihan dong ya?

Ya keadaan perselisihan.

Oh, masih sempat jualan nasi bungkus di waktu perang?

Ya sudah waktu damai sich, hanya ya terkadang masih ada yang perselisihan. Kan saya hidup di wilayah Atambua waktu itu.

Oke, kembali ke daftar tentara barusan, lulus itu pangkatnya apa?

Jika dari Tamtama kan dari Prada. Prajurit Dua.

Pangkat paling buncit itu ya?

Iya, itu pangkat paling rendah dalam tentara.

Waktu lulus dari Tamtama itu, sudah bisa upah yang cukup tidak buat hidup semasa satu bulan?

Ya saat itu upah 1,7 juta, sudah sama uang lauk-pauk. Ya saat itu cukup saja untuk kehidupan prajurit semasa satu bulan.

Sebab masih single sich.

Iya, masih bujangan.

Usia berapakah?

Saat itu, 19 tahun.

Naik berapakah % tiap naik pangkat?

Dengan cara periodik itu kan 2 tahun naik upah. 2 tahun itu naik 10 %. Yah paling-paling (naik) seratus ribu per 2 tahun.

Upah inti ini? Belum tunjangannya?

Iya, itu belum tunjangannya. Naik begitu terus sampai kelak bisa tunjangan kedudukan.

Bermakna pangkat saat ini apa?

Sersan dua regular. Soalnya dari Tamtama.

Belum sampai sebulan Serda Aries mengakhiri Pendidikan Pembangunan Bintara. Resmi memiliki pangkat Sersan Dua saat ini. Selamat ya, Gan, eh, Ndan.

Nah, ini ada pertanyaan yang penting. Konon, di pekerjaan-tugas tentara itu tidak tetap pegang senjata begitu. Tuturnya Anda pernah seringkali bisa pekerjaan nyuci tank begitu. Itu beneran tidak ya?

Iya betul.

Pekerjaan sah dalam periode spesifik atau hanya sekali 2x?

Ya seringkali nyuci tank. Gini. Ya kan memang didikan tentara begitu. Memang skema junior-seniornya kental sekali. Sebab kepangkatan. Jadi jika kita masih Prajurit Dua, itu tentu faktor pelaksana. Jadi jika di skema, kita ini yang sangat depan. Jadi benteng lah. Seperti main catur, jadi pionir lah. Jadi diminta kesana diminta kesini, sama senior-senior, harus turut. Namanya tentara.

Itu waktu nyuci tank pangkatnya apa?

Masih Prada.

Tank apa saja yang sempat dicuci?

Tank atau panser masih jaman penjajahan itu. Kan untuk perawatan, harus bersih terus.

Oh, tetapi itu tanknya masih digunain?

Jika untuk latihan digunakan.

Tank kuno bermakna ya?

Iya, sama pansernya .

Masih ingat tidak dahulu tipe tanknya apa?

Kelak saja saya WhatsApp, lupa saya macamnya.

(Serda Aries pernah lupa tipe tank-nya sebab ia bukan dibagian kavaleri, tetapi selanjutnya saya dikirimi info jika tank yang disebut itu tipe tank AMX-13. Tank yang dibuat di antara tahun 1952-1987, bikinan Perancis, hanya yang telah diubah oleh Pindad).

Perlu berapakah lama nyucinya?

Nyucinya kan ya tidak seseorang. Banyak pula orangnya.

Untuk satu tank perlu berapakah orang?

Terkadang orang 5, terkadang 12. Bergantung yang senior suruh berapakah. Soalnya kan harus nyuci semua sisi sampai ke rantai ban tank .

Hah?

Ya iya, harus bersih. Intinya sampai tidak ada tanah memelekat di ban tank-nya.

Jika masih kotor diberi hukuman tidak seperti di film-film tentara begitu?

Ya iya. Jika masih kotor ya diminta nyuci lagi dari pertama. Habis itu diberi pelumas besi-besi engselnya, agar tidak karatan.

Oh, bermakna tidak hanya nyuci dong ya, sampai kasih oli semua rupanya?

Iya. Untuk pedalnya . Semua lah.

Nah, proses membersihkan sama kasih oli itu. Umumnya perlu berapakah jam untuk membersihkan satu tank?

Sampai 4 atau 5 jam.

Lama sekali.

Iya. Kamu anggap cepet ya?

Bermakna tanknya gede sekali.

Ya iya.

Itu nyuci sampai interior tank-nya semua tidak?

Iya.

Jika nyuci tank begitu, terus gunakan sabun apa? Gunakan KIT ?

Ya sabun biasa. Gunakan Wings.

Wings? Sabun jawil?

Sabun jawil. Iya.

Jadi keset dong tank-nya?

Ya iya.

HAHAHA.

Ya dicuci biasa kan. Habis itu disemprot gunakan air. Terus dilap.

Dicucinya itu bukan yang terencana ya, tetapi semakin seperti insidental begitu.

Ya jika habis digunakan buat latihan ya langsung dicuci. Tetapi terkadang untuk perawatan . Dalam satu bulan itu dapat 2x dicuci.

Itu jika habis dicuci begitu ngeringinnya bagaimana? Dilap gunakan kanebo?

Umumnya sich dijemur saja. Sekalian diberi pelumas semua, diberi oli-oli.

Waktu nyuci tank itu, Anda operasikan tidak tank-nya? Tujuannya maju mundurnya begitu?

Ya dipindahkan-pindah , tetapi tetep ada pengemudi tank-nya yang punyai pangkat disana. Jadi di tank (yang menjalankan) itu memang benar ada pangkatnya semasing.

Bermakna sama-sama Prada hanya bisa nyuci doang ya? Tidak bisa menjalankan?

Iya.

Jika tentara seperti Anda begitu, senang melihat film-film perang tidak sich?

Ya seringkali.

Apa? Seperti film perang apa misalnya?

Masalah film perang dunia ke-2. Apakah itu, lupa judulnya.

Film Saving Privat Ryan?

Iya, itu.

Sudah sempat tonton film Fury?

Sempat.

Senang tidak?

Kurang. Ceritanya kurang gahar.

Kurang menegangkan kemungkinan tujuannya?

Iya, tujuannya itu. Kurang menegangkan.

Tetapi kan Anda untuk tentara yang dahulu seringkali membersihkan tank, harusnya semakin punyai hubungan dengan film Fury dong daripada sama film Saving Privat Ryan?

Hahaha.

Dalemannya tank ya seperti di film Fury itu bermakna ya?

Iya.

Sumpek tidak di dalam?

Ya sumpek, panas.

Tidak terpasangin AC saja begitu?

Sebetulnya tehnologi tank-tank yang saat ini ada.

Hah? Beneran?

Tank yang jaman saat ini kan mode Scorpion atau Leopard, terus yang paling baru bikinan Pindad, bikinan kita sendiri, Indonesia, brand Harimau. Ada AC-nya itu.

Paling akhir ini, pertanyaan paling penting. Mengapa tentara jika mencari jodoh umumnya perawat atau bidan?

Wah, tidak tahu saya.

Lah istri Anda bidan tidak?

Alumnus Akper. Perawat.

Kaaan… stigmanya jadi beneran. Kok Anda milih istri perawat?

Ya kan pacaran semenjak SMA. Tetangga desa. Kebetulan saat itu ia dari lulus SMA daftar perawat, saya daftar tentara.

Jadi murni kebetulan saja ini?

Iya.

Ya telah, kurang lebih cukup begitu saja, Pak. Cemas kepanjangan kelak ganggu pekerjaan negara Anda. Terima kasih ya Serda Aries atas saatnya.

Iya, Mas. Saling.

Pocong di Belakang, Kuntilanak di Depan: Terjepit Dua Hantu Ketika Menembus Hutan Sulawesi



Apakah yang dapat kamu kerjakan saat di belakang ada 3 pocong mengawasi sesaat di muka kuntilanak telah menanti? Bayangin kengeriannya.

"Ctak…." Bunyi rantai motor yang saya naiki bersama-sama kawan putus di pedalaman rimba Sulawesi Tenggara. Waktu itu saya sedang diperjalanan pulang ke desa peletakan kerja dari ibu kota propinsi. Perjalanan itu harus tembus rimba Sulawesi yang sepi serta bodohnya kami melakukan di waktu malam hari.

"Kampret," umpat kawan saya yang namanya Brian, orang Batak yang tinggal di Jakarta. Rekan saya ini ialah kawan satu tempat peletakan dalam suatu desa di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

"Mati kita Bray rantai putus dalam tempat yang dikisahkan kak Erin."

Rantai motor kendaraan kami putus waktu melalui jalan naik yang panjangnya sampai tiga ratus mtr.. Tempat yang menurut beberapa orang lokal ialah tempat keramat sebab kecuali seringkali berlangsung kecelakaan serta penampakan pocong serta kuntilanak.

Ada ketentuan yang perlu dipatuhi pengendara bila melalui jalan ini. Kak Erin menceritakan, bila melalui jalan ini kita harus buka jendela mobil, bila masih kurang berani karena itu diperkenankan mengetuk jendela saja untuk sinyal "permisi".

"Bagaimana bila naik motor?" Saya pernah bertanya ini pada Kak Erin.

"Jika berani jalan malam-malam, seharusnya mengucap tabe inggmiu mbu laika roroma, saat melalui tanjakan itu."

"Itu bahasa Tolaki?"

"Iya"

"Berarti?"

"Permisi tuan pemilik rimba rimbun."

Waktu itu saya memang tidak mengucap kalimat permisi. Saya tidak menggubris beberapa hal mistis. Lain dengan Brian yang yakin. Sayang, malam itu, ia lupa ucapkannya. Saya sendiri semakin yakin pada hal yang berbentuk teknikal. Saya percaya gir serta ratainya telah tua serta aus hingga girnya jadi tajam. Karenanya saya cukup jengkel dengan Brian yang menampik stop untuk mengubahnya.

Brian yang bawa motor sebab badannya jauh semakin besar dari saya. Sebelum masuk rimba, saya telah memberikan pendapat kepadanya untuk stop saat kami lihat bengkel di kota. Tetapi sebab takut kemalaman, Brian tidak ingin stop walau sebenarnya berasa sekali motor ini terganggu setiap saat meningkatkan kecepatan.

"Terus bagaimana ini?"

"Ada dua pilihan Bray. Kita balik seputar dua atau tiga kilo, di dalam rumah paling akhir perkampungan yang kita lalui, saya melihat ada bengkel atau jika ingin jalan lagi, semakin tujuh kilo kita geret motor ini baru dapat nemu perkampungan, ada bengkel disana. Jika saya sich nikmatnya yang semakin dekat saja kita balik, semakin logis sebab balik jalannya turun. Jika lanjut bermakna semakin lebih banyak mendaki."

"Jangan Dho, ampun telah takut sekali. Lebih bagus saya geret motor ke atas."

Selama perjalanan yang menjadi berat sekali itu, sebetulnya Brian telah lihat serta merasai yang aneh-aneh. Contohnya, Brian mencium berbau melati, sesaat saya tidak. Beberapa mtr. selanjutnya, sebenarnya ia telah lihat kuntilanak. Satu kali lagi, saya tidak menyaksikannya.

Walau sebenarnya selama jalan, Brian cuma lihat lurus ke depan sebab takut, tetapi kok dapat lihat penampakan? Saya pikir dia hanya paranoid sebab saya benar-benar tidak mencium berbau melati atau lihat kuntilanak.

Saya sebetulnya ingin menampik pilihan tidak logis itu tetapi sebab selama jalan sebenarnya Brian telah ketakutan, tetapi pada akhirnya saya menyanggupinya. Daripada berdiskusi terus tidak usai serta malam makin larut.

Malam itu gelap, langit diselimuti awan hingga. Sinar bulan susah tembus awan serta kabut yang mulai turun. Sebab jalan rimba, telah pasti tidak ada penerangan. Benar-benar jarang-jarang ada kendaraan melalui. Jarak pandangan kami cuma 5 sampai 7 mtr..

Di selama jalan kami bergantian menggeret motor. Keringat telah membasahi semua badan walau temperatur benar-benar dingin. Serta saya lihat badan Brian seakan keluarkan asap. Tatap muka temperatur dingin dengan panas badannya yang sedang berusaha menggeret motor jadi uap.

Saya, yang pada awalnya tidak memikir beberapa macam, mulai merinding . Pemikiran masalah penampakan pocong serta kuntilanak mulai ada. Pemikiran itu mulai ada sesudah kami melalui Teritori rimba sawit yang tidak besar. Tidak paham mengapa, rimba sawit itu mendatangkan perasaan aneh.

Betul saja, sebab gelap serta berkabut, saat ada "satu benda" yang kontras, contohnya berwarna putih, tentu nampak jelas. Saat melihat mengarah kiri, di kedalaman rimba sawit, saya lihat pocong seperti melekat ke pohon. Tidak cuma satu tetapi tiga!

Karena sangat takutnya, saya hanya dapat mengatakan lirih: "Pocong! Tidak hanya satu, Bray, ada tiga!"

Saya pernah takut Brian akan turut melihat lalu lari sebab takut. Tetapi, ia tidak melihat, pandangannya lurus ke depan. Mendadak, ia justru menanyakan:

"Dho, kamu cium berbau melati?"

"Tidak Bray," jawab saya bohong. Kesempatan ini saya mencium berbau wangi melati. Perasaan merinding makin jadi. Jantung saya berdetak makin cepat hingga napas saya tersengal-sengal.

Saya lihat mulut Brian komat-kamit seperti membaca doa. Saat ini saya ketahui mengapa ia tidak melihat saat saya katakan ada pocong. Sedikit cukup ke depan, Brian telah lihat kuntilanak duduk di dahan pohon besar.

Saya dapat lihat secara jelas seorang wanita kenakan pakaian putih duduk di dahan. Rasa-rasanya makin mengerikan sebab kami tidak dapat menghindar. Ingin lari mustahil, ini rimba serta ditengah-tengah gunung. Perkampungan masih jauh di muka. Ditambah lagi bila putar balik, ada 3 pocong yang telah menanti di pinggir rimba sawit. Kuntilanak di muka, pocong di belakang. Lengkap.

Kaki saya mendadak jadi berat serta oksigen seakan malas masuk dalam paru-paru. Saya mulai sempoyongan walau sebenarnya saya berjalan kaki tanpa ada beban, cuma bawa badan langsing saya. Sedang Brian yang gemuk serta sedang menggeret motor tetapi seperti tidak kecapekan, justru cara kakinya makin cepat. Entahlah darimanakah tenaganya?

Saya serta Brian membulatkan tekad berjalan melalui pohon itu. Kami tidak berani lihat kuntilanak itu. Tetapi kamu paham.kamu mengerti jika "ia" masih disana. Sesudah berjalan beberapa mtr., kami dengar suara motor.

Ternyata Tuhan masih sayang kami. Seorang bapak-bapak berani sekali masuk rimba. Ia baik hati menolong kami menggerakkan motor sampai perkampungan masyarakat. Serta bapak ini menolong mendobrak satu bengkel yang telah tutup. Saya pernah memikir, apa ya pocong menyaru jadi seorang bapak-bapak serta naik motor. Horor, walau cukup menggelikan.

Mujur bengkel itu bersatu dengan rumah pemiliknya. Selekasnya kami mengubah rantai serta gir motor walau tidak original yang perlu kami dapat pulang ke desa.

Sesampainya di dalam rumah, Brian akui telah lihat 3 pocong yang saya melihat. Tetapi tidak berani lari sebab di muka telah dinanti kuntilanak. Saya menanyakan mengapa ia tidak lari.

"Kampret, berapakah jauh saya dapat lari dengan tubuh ini. Saya mengharap kamu tidak pocong atau kuntilanak sebab jika kamu melihat, saya takut kamu lari ninggalin saya. Tidak mungkin saya dapat kejar kamu."

Kami berdua ketawa terlepas sebab rupanya kami berpikir sama waktu itu. Saling takut jika sampai ditinggal sendiri.

Minggu kedepan saya ada kerjaan yang mewajibkan saya tiba lagi ke kota. Apesnya Brian tidak ingin turut, tuturnya masih trauma. "Kamu balik sore saja. Jika kemalaman lebih bagus nginap di Kendari," pendapat Brian.

Pada akhirnya saya sangat terpaksa pergi sendiri serta merencanakan bermalam di dalam rumah rekan saya di Kendari. Apesnya, telah merencanakan bermalam, rupanya kawan mengajar minta saya untuk menggantinya keesokannya. Jadi, saya harus balik malam itu , sendirian melalui "sarang" pocong serta kuntilanak.

Di perjalanan saya langsung berasa ada yang tidak beres dengan motor saya. Rantainya kok seperti tersendat-sendat. Kemungkinan sebab gir serta rantainya tidak ori. Saya paksakan saja jalan pelan-pelan.

Saat datang di tanjakan seram itu saya menjelaskan "Tabe inggmiu mbu laika roroma," serta mengubah gigi motor jadi gigi satu, selanjutnya tancap gas.

"Ctak…." mendadak rantai motor saya putus lagi dalam tempat sama, di saat yang sama dengan minggu kemarin.

Sialan….

Debat soal Manusia Pernah ke Bulan dan Pernyataan Dikit-dikit Menurut Allah



Kiai Masrur dari pertama diskusi telah suka membawa-bawa kalimat ‘menurut Allah' berulang-kali untuk hal yang karakternya ijtihad. Diskusi jadi panjang pada akhirnya.

Berlangsung pembicaraan hebat di antara Kiai Masrur dengan Gus Sobar. Bukan pembicaraan penting sebetulnya, tetapi Kiai Masrur serta Gus Sobar saling ngotot masalah apa Neil Amstrong beneran sempat ke bulan atau belum. Kebetulan ada Gus Mut di tengahnya pembicaraan itu. Terjerat dalam pembicaraan yang tidak kualitas-mutu sangat itu.

"Masih tidak kemungkinan, Bar, Sobar. Nabi Muhammad saja yang manusia pilihan harus dijemput Malaikat Jibril untuk dapat terbang ke langit. Lah kok ini ada manusia yang sudah tidak Islam ealah justru dapat sampai ke Bulan. Ditambah lagi menurut Allah itu Bulan tempatnya berada di langit lapis ke-4," kata Kiai Masrur ngotot.

"Ya kemungkinan dong, Pak Kiai," kata Gus Sobar enjoy.

"Tidak kemungkinan. Itu pastinya akal-akalannya Amerika saja, agar disangka untuk negeri yang hebat. Menurut Gusti Allah tidak demikian, Bar," kata Kiai Masrur. Kesempatan ini dan diberi beberapa hadis serta alasan supaya Gus Sobar ingin setuju.

Sebab saling ngotot, pembicaraan ini juga hampir tidak berbuntut. Dari bakda Isya', pembicaraan panjang ini baru terlihat akan menjumpai akhir seputar jam 3 pagi hari. Gus Mut yang berada di tengahnya itu pilih mainan hape dibanding turut memeriahkan diskusi itu.

"Walah, ingin sampeyan katakan gimana-gimana Neil Amstrong sampai ke Bulan itu tidak kemungkinan, Gus. Jika menurutku itu benar-benar tidak kemungkinan," kata Kiai Masrur.

Di luar sangkaan, Gus Sobar yang dari barusan terlihat ngotot langsung kendor.

"Ya telah jika menurut panjenengan itu tidak kemungkinan. Alhamdulillah, pada akhirnya telah ada persetujuan," kata Gus Sobar.

"Tujuannya apa ini? Sampeyan ngejek ya ini?" bertanya Kiai Masrur tidak terima. Gus Mut yang telah terkantuk-kantuk jadi terkejut.

"Bukan begitu, Pak Kiai. Intinya jika menurut panjenengan itu mustahil ya telah, saya sepakat. Walaupun menurutku manusia sampai ke Bulan itu tetep kemungkinan," kata Gus Sobar.

"Lho, lho, ini ingin ngajak diskusi lagi sampeyan?" muntab lagi pada akhirnya Kiai Masrur.

"Bukan, bukan begitu, Pak Kiai. Ini telah betul. Panjenengan katakan ‘menurutku' barusan itu pada akhirnya telah jadi betul. Menurut panjenengan itu tidak kemungkinan, menurutku itu kemungkinan. Beres. Setuju kita Pak Kiai jika opini kita tidak sama," kata Gus Sobar.

"Lah terus ngapain sampeyan dari barusan menyanggah jika pada akhirnya hanya ini?" bertanya Kiai Masrur bingung.

"Gini, Pak Kiai. Panjenengan dari barusan itu katakan mustahil menurut Gusti Allah, menurut Al-Quran menurut Hadis. Kan kita ini saling tidak tahu menurut Gusti Allah yang beneran itu yang bagaimana?" kata Gus Sobar.

Tiba-tiba meledak tawa Gus Mut yang hampir berjam-jam jadi hanya jadi obat nyamuk antara Kiai Masrur serta Gus Sobar.

"Kamu ngapain, Mut? Kok mendadak tertawa. Dari barusan repot mainan hape saja, mendadak tertawa. Ngejek saya ya?" bertanya Kiai Masrur jadi sensi.

"Bukan, bukan. Maaf ini, dari barusan saya ini diem agar tidak ikutan berdiskusi serta tidak bela salah satunya, tetapi kesempatan ini saya setuju sama Gus Sobar, Pakde," kata Gus Mut yang menyebut Kiai Masrur dengan panggilan "Pakde" walau tidak punyai jalinan darah.

"Masak pembicaraan hebat gini hanya disudahi sebab saya katakan ‘menurutku', apa perbedaannya?" bertanya Kiai Masrur masih tidak terima.

"Ya banyaaak perbedaannya, Pakde," kata Gus Mut.

"Tidak demikian beda perasaan," kata Kiai Masrur.

"Pakde tentu tahu kisah Sayyidina Umar dahulu, waktu beliau masih sugeng sempat ada waktu tiap ketetapan Sayyidina Umar itu tetap betul. Serta sebab karena sangat tetap betulnya, sampai dikultuskan sama teman dekat-sahabat lainnya jika ketetapannya Umar itu ialah hadza khukmullah, ini hukumnya Allah," kata Gus Mut.

"Ya iya, saya tahu kisah itu. Hubungan apa sama pembicaraan ini? Di kisah itu kan tidak ada bicarakan masalah Bulan benar-benar," kata Kiai Masrur.

"Bukan di masalah Bulannya, Pakde, tetapi di masalah gagasannya Umar yang disamakan seperti jadi gagasannya Allah itu. Kan Sayyidina Umar sempat katakan ‘la takulu hadza khukmullah wakulu hadza khukmu Umar,' jangan ucap ini hukum Allah tetapi katakan ini hukumnya Umar," kata Gus Mut.

"Iya, iya, saya tahu itu. Pak Kiai pasti juga tahu," kata Gus Sobar.

"Ya, itu kan kisah masalah Umar supaya jika ketetapan itu betul, karena itu agar itu menjadi hukum Allah, tetapi jika salah agar itu menjadi kelirunya Umar," kata Kiai Masrur.

"Karena itu itu, saat Pakde katakan ‘menurutku', serta bukan lagi menurut Allah, pembicaraan Pakde sama Gus Sobar itu menjadi usai. Soalnya saling tidak gunakan nama Allah untuk jadi tameng opini pribadi semasing," kata Gus Mut.

Kiai Masrur tersadarkan, ijtihadnya rupanya telah keblabasan. Semakin buat menyesal lagi, pembicaraan ini sampai habiskan waktu berjam-jam.

"Ya telah, ini kita sekaligus nungguin salat subuh saja jika begitu daripada ketiduran terus justru bablas," kata Kiai Masrur.

"Subuhan jam 1/2 lima jika di sini," kata Gus Sobar.

"Lah, Bar. Dasar salat kok gunakan jam begitu? Gunakan jam istiwa' dong. Jangan jam normal begitu," kata Kiai Masrur.

"Ya tidak dapat begitu , Pak Kiai…"

"Lho, sampeyan ngajak diskusi lagi ini? Oke," kata Kiai Masrur nantangin. Di luar sangkaan Gus Sobar juga justru melayani lagi.

Kesempatan ini Gus Mut tepok jidat sekalian berbisik lirih ditelan suara pembicaraan Gus Sobar serta Kiai Masrur.

"Ealah, justru diskusi hal baru lagi. Woalaah, remoook, remok."