Sampai saat ini, saya ingin tahu, tuyul pergi itu sebab
takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya yang tidak punyai
uang, ya.
Suara azan subuh menggugah tidur nyenyakku. Waktu itu, saya
lagi rajin-rajinnya turut Simbok salat di masjid. Jarak rumah ke arah masjid
tidak jauh. Tetapi, sedikit yang ingin turut salat subuh di masjid sebab
jalanan yang sepi sekali. Maklum, desa saya berada di wilayah perbukitan yang
berasa wingit.
Jalan yang saya serta Simbok biasa lalui gelap sebab tidak
ada lampu jalan. Sumber sinar yang remang-remang itu datang dari lampu rumah
tetangga. Udara waktu subuh benar-benar dingin membuatku bergidik. Simbok saya
itu jika jalan cepet sekali, seringkali buat saya tertinggal, serta jadi tidak
tenang.
Subuh itu sama dengan subuh sebelumnya. Gelap, sepi, dingin,
serta Simbok berjalan cukup jauh di depanku. Saat sampai dalam suatu pertigaan,
saya lihat tiga anak kecil berjalan ke arah rumah tetangga di samping kanan
jalan. Disamping itu, jika ingin ke masjid, belok kiri. Simbok yang berjalan
bertambah cepat tidak lihat tiga anak kecil itu.
Tamu? Tetapi, kok, anak kecil semua. Jam segini lagi. Waktu
itu saya belum mengetahui jika akan dibuat jengkel sama tuyul.
Sesudah memperhatikan sesaat, saya belum teringat jika akan
terkena apes. Saya justru memikir seperti gini: wah, kasihan ada tiga anak
kecil yang keliatannya ketidaktahuan ingin masuk ke rumah. Jadi saya putuskan
untuk menolong mereka.
"Simbok, riyen mboten nopo-nopo. Kulo ajeng ting Ardi
riyen. Onten tamu, kintene mboten ngertos," kataku sekalian 1/2 berteriak
kea rah Simbok. Oya, Ardi itu bukan nama sebetulnya, ya.
Translate-nya:
(Simbok lebih dulu tidak apa-apa. Saya ingin ke Adi dahulu.
Ada tamu, kelihatannya tidak tahu)
"Yo gek wis, Pak Riset wis arep komat." (Ya
cepetan, Pak Haji ingin komat) Jawab Simbokku. Kalian tahu komat kan? Yang
khaya ngalashola kira-kira semacam itu.
Pada akhirnya saya mengejar ke-3 anak kecil itu. Pertama
lihat ke-3 bocah itu saya ketawa ngakak. Bisa-bisanya bocah sekecil itu tidak
menggunakan pakaian. Serta sporot juga tidak digunakan. Kalian tidak tahu
sporot? Itu, lho, kaos dalam, ndeso ah.
Muka mereka belepotan pupur bayi. Pikirku, apa ya Ardi sewa
badut bocah untuk rayakan ulang tahun adiknya. Eh, jika dipikirkan ulang tahun
adiknya masih lama.
"Dek, arep bertemu Ardi po?" (Dek, ingin berjumpa
Ardi ?)
"Uang," jawab bocah itu. Ke-3 bocah itu nyengir
memperlihatkan gigi kelincinya ke arahku. Seram sekali ternyata. Mulutnya
tersenyum lebar ke arahku. Ketiganya mempunyai wajah yang sama.
Bocah itu maju ke arahku dengan tempat tubuh memunggungiku.
Seperti undur-undur saja. Saya juga mundur alon-alon. Mereka meningkatkan
tangannya seperti ingin minta suatu hal.
"Uang."
"Saya ora tahu koe. Arep nopo njaluk uang" (Saya
tidak paham kamu. Ingin apa minta uang?). Saya membulatkan tekad menanyakan
semacam itu.
Semua bocah itu ngakak sejadi-jadinya. Mereka membalikan
badan menatapku. Sumpah muka mereka seram sekali. Pupur bayi yang tidak rata,
kepala gundul, suara tertawa yang seram sekali, serta tangan berkulit pucat
yang terus teracung meminta uang.
"Koe tuyul jebul. Laa…ah a…ku wedi tenan. Mbooo…ook
saya tahu tuyul!!!" Saya lari sekencang-kencangnya pulang ke rumah. Ke-3
tuyul itu cekikikan lihat saya lari terbirit-birit.
Sampai di dalam rumah saya masih gelagapan. Simbokku
menanyakan mengapa saya pulang lebih dulu. Tetapi tidak kujawab. Saya masih
tidak yakin apakah yang saya melihat barusan. Pada akhirnya saya salat subuh di
dalam rumah serta akan meneruskan tidur saja. Sebab saat itu hari libur.
Saya melihat jam di ruangan tamu. Saat ini jam 1/2 lima
semakin delapan menit. Kelihatannya saya akan menanti pagi. Pada akhirnya saya
putuskan untuk melihat film di ruangan tamu.
Awalnya saya ambil guling dari kamarku. Waktu akan ambil
guling, saya dengar suara sandal ditarik. Srek srek srek.
Saya melihat ke belakang tetapi tidak ada apa-apa. Lalu saya
mengambil guling itu. Tetapi seperti ada yang meredam. Lalu ku tarik paksa
guling itu serta justru membuatku jatuh tersuruk menghadap kolong tempat tidur.
Perlahan-lahan saya dengar cekikikan seorang anak kecil. Saat itu juga saya
ingat sang tuyul itu.
"Baaaa!" Aseeeem tuyul itu mengagetiku. Spontan
saya memukulnya gunakan guling. Sekalian menangis sejadi-jadinya sebab takut.
Lalu saya lari ke ruangan tamu.
Saya meneguk satu cangkir teh untuk menentramkan jantungku.
Kreit…kreit…ahihihii' Saya kaget lagi serta lari ke kamarku.
Apes. Rupanya tuyul itu justru di kamarku. Saya menjerit
keras "Tuyul!!"
Tuyul itu ketawa. Satu diantara mereka menakutiku serta yang
dua buka almariku.
"Ra ono uang" (Tidak ada uang) kata salah satunya
tuyul itu.
Dengan terbata-bata saya membacakan ayat bangku dengan
keras. Mereka justru asyik mengobrak-abrik isi almariku. Fundamen tuyul apa
tidak tahu sama yang namanya ayat bangku ya. Tuyul tidak ada akhlak.
Sekalian gemetaran saya terus meneruskan membacakan ayat
bangku untuk menghancurkan tuyul menyebalkan itu. Sampai di tengah ayat ada
sedikit keberanianku. Saya makin jadi membaca ayat kursinya.
Entahlah bagaimana, kombinasi rasa takut sama kesal, saya
justru jadi geram. Sekalian baca ayat bangku, saya mendelik seperti penari
bali. Eh, mereka balik mendelik. Saat kami sama-sama mendelik, salah satunya
tuyul katakan:
"Kapoook saya kapok. Ra ono uang, ra ono uang".
Sesudah mengatakan semacam itu, tuyul tidak punyai sopan santu itu pergi. Dua
tuyul gundul bekasnya lalu mengejar. Sampai saat ini, saya ingin tahu, mereka
pergi itu sebab takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya
yang tidak punyai uang, ya.
