Rabu, 03 Juni 2020

Tuyul Nggak Ada Akhlak Gagal Maling Karena Aku Nggak Punya Duit



Sampai saat ini, saya ingin tahu, tuyul pergi itu sebab takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya yang tidak punyai uang, ya.

Suara azan subuh menggugah tidur nyenyakku. Waktu itu, saya lagi rajin-rajinnya turut Simbok salat di masjid. Jarak rumah ke arah masjid tidak jauh. Tetapi, sedikit yang ingin turut salat subuh di masjid sebab jalanan yang sepi sekali. Maklum, desa saya berada di wilayah perbukitan yang berasa wingit.

Jalan yang saya serta Simbok biasa lalui gelap sebab tidak ada lampu jalan. Sumber sinar yang remang-remang itu datang dari lampu rumah tetangga. Udara waktu subuh benar-benar dingin membuatku bergidik. Simbok saya itu jika jalan cepet sekali, seringkali buat saya tertinggal, serta jadi tidak tenang.

Subuh itu sama dengan subuh sebelumnya. Gelap, sepi, dingin, serta Simbok berjalan cukup jauh di depanku. Saat sampai dalam suatu pertigaan, saya lihat tiga anak kecil berjalan ke arah rumah tetangga di samping kanan jalan. Disamping itu, jika ingin ke masjid, belok kiri. Simbok yang berjalan bertambah cepat tidak lihat tiga anak kecil itu.

Tamu? Tetapi, kok, anak kecil semua. Jam segini lagi. Waktu itu saya belum mengetahui jika akan dibuat jengkel sama tuyul.

Sesudah memperhatikan sesaat, saya belum teringat jika akan terkena apes. Saya justru memikir seperti gini: wah, kasihan ada tiga anak kecil yang keliatannya ketidaktahuan ingin masuk ke rumah. Jadi saya putuskan untuk menolong mereka.

"Simbok, riyen mboten nopo-nopo. Kulo ajeng ting Ardi riyen. Onten tamu, kintene mboten ngertos," kataku sekalian 1/2 berteriak kea rah Simbok. Oya, Ardi itu bukan nama sebetulnya, ya.

Translate-nya:

(Simbok lebih dulu tidak apa-apa. Saya ingin ke Adi dahulu. Ada tamu, kelihatannya tidak tahu)

"Yo gek wis, Pak Riset wis arep komat." (Ya cepetan, Pak Haji ingin komat) Jawab Simbokku. Kalian tahu komat kan? Yang khaya ngalashola kira-kira semacam itu.

Pada akhirnya saya mengejar ke-3 anak kecil itu. Pertama lihat ke-3 bocah itu saya ketawa ngakak. Bisa-bisanya bocah sekecil itu tidak menggunakan pakaian. Serta sporot juga tidak digunakan. Kalian tidak tahu sporot? Itu, lho, kaos dalam, ndeso ah.

Muka mereka belepotan pupur bayi. Pikirku, apa ya Ardi sewa badut bocah untuk rayakan ulang tahun adiknya. Eh, jika dipikirkan ulang tahun adiknya masih lama.

"Dek, arep bertemu Ardi po?" (Dek, ingin berjumpa Ardi ?)

"Uang," jawab bocah itu. Ke-3 bocah itu nyengir memperlihatkan gigi kelincinya ke arahku. Seram sekali ternyata. Mulutnya tersenyum lebar ke arahku. Ketiganya mempunyai wajah yang sama.

Bocah itu maju ke arahku dengan tempat tubuh memunggungiku. Seperti undur-undur saja. Saya juga mundur alon-alon. Mereka meningkatkan tangannya seperti ingin minta suatu hal.

"Uang."

"Saya ora tahu koe. Arep nopo njaluk uang" (Saya tidak paham kamu. Ingin apa minta uang?). Saya membulatkan tekad menanyakan semacam itu.

Semua bocah itu ngakak sejadi-jadinya. Mereka membalikan badan menatapku. Sumpah muka mereka seram sekali. Pupur bayi yang tidak rata, kepala gundul, suara tertawa yang seram sekali, serta tangan berkulit pucat yang terus teracung meminta uang.

"Koe tuyul jebul. Laa…ah a…ku wedi tenan. Mbooo…ook saya tahu tuyul!!!" Saya lari sekencang-kencangnya pulang ke rumah. Ke-3 tuyul itu cekikikan lihat saya lari terbirit-birit.

Sampai di dalam rumah saya masih gelagapan. Simbokku menanyakan mengapa saya pulang lebih dulu. Tetapi tidak kujawab. Saya masih tidak yakin apakah yang saya melihat barusan. Pada akhirnya saya salat subuh di dalam rumah serta akan meneruskan tidur saja. Sebab saat itu hari libur.

Saya melihat jam di ruangan tamu. Saat ini jam 1/2 lima semakin delapan menit. Kelihatannya saya akan menanti pagi. Pada akhirnya saya putuskan untuk melihat film di ruangan tamu.

Awalnya saya ambil guling dari kamarku. Waktu akan ambil guling, saya dengar suara sandal ditarik. Srek srek srek.

Saya melihat ke belakang tetapi tidak ada apa-apa. Lalu saya mengambil guling itu. Tetapi seperti ada yang meredam. Lalu ku tarik paksa guling itu serta justru membuatku jatuh tersuruk menghadap kolong tempat tidur. Perlahan-lahan saya dengar cekikikan seorang anak kecil. Saat itu juga saya ingat sang tuyul itu.

"Baaaa!" Aseeeem tuyul itu mengagetiku. Spontan saya memukulnya gunakan guling. Sekalian menangis sejadi-jadinya sebab takut. Lalu saya lari ke ruangan tamu.

Saya meneguk satu cangkir teh untuk menentramkan jantungku.

Kreit…kreit…ahihihii' Saya kaget lagi serta lari ke kamarku.

Apes. Rupanya tuyul itu justru di kamarku. Saya menjerit keras "Tuyul!!"

Tuyul itu ketawa. Satu diantara mereka menakutiku serta yang dua buka almariku.

"Ra ono uang" (Tidak ada uang) kata salah satunya tuyul itu.

Dengan terbata-bata saya membacakan ayat bangku dengan keras. Mereka justru asyik mengobrak-abrik isi almariku. Fundamen tuyul apa tidak tahu sama yang namanya ayat bangku ya. Tuyul tidak ada akhlak.

Sekalian gemetaran saya terus meneruskan membacakan ayat bangku untuk menghancurkan tuyul menyebalkan itu. Sampai di tengah ayat ada sedikit keberanianku. Saya makin jadi membaca ayat kursinya.

Entahlah bagaimana, kombinasi rasa takut sama kesal, saya justru jadi geram. Sekalian baca ayat bangku, saya mendelik seperti penari bali. Eh, mereka balik mendelik. Saat kami sama-sama mendelik, salah satunya tuyul katakan:

"Kapoook saya kapok. Ra ono uang, ra ono uang". Sesudah mengatakan semacam itu, tuyul tidak punyai sopan santu itu pergi. Dua tuyul gundul bekasnya lalu mengejar. Sampai saat ini, saya ingin tahu, mereka pergi itu sebab takut sama ayat bangku, mataku yang mendelik, atau fakta saya yang tidak punyai uang, ya.