Rabu, 03 Juni 2020

Pocong di Belakang, Kuntilanak di Depan: Terjepit Dua Hantu Ketika Menembus Hutan Sulawesi



Apakah yang dapat kamu kerjakan saat di belakang ada 3 pocong mengawasi sesaat di muka kuntilanak telah menanti? Bayangin kengeriannya.

"Ctak…." Bunyi rantai motor yang saya naiki bersama-sama kawan putus di pedalaman rimba Sulawesi Tenggara. Waktu itu saya sedang diperjalanan pulang ke desa peletakan kerja dari ibu kota propinsi. Perjalanan itu harus tembus rimba Sulawesi yang sepi serta bodohnya kami melakukan di waktu malam hari.

"Kampret," umpat kawan saya yang namanya Brian, orang Batak yang tinggal di Jakarta. Rekan saya ini ialah kawan satu tempat peletakan dalam suatu desa di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

"Mati kita Bray rantai putus dalam tempat yang dikisahkan kak Erin."

Rantai motor kendaraan kami putus waktu melalui jalan naik yang panjangnya sampai tiga ratus mtr.. Tempat yang menurut beberapa orang lokal ialah tempat keramat sebab kecuali seringkali berlangsung kecelakaan serta penampakan pocong serta kuntilanak.

Ada ketentuan yang perlu dipatuhi pengendara bila melalui jalan ini. Kak Erin menceritakan, bila melalui jalan ini kita harus buka jendela mobil, bila masih kurang berani karena itu diperkenankan mengetuk jendela saja untuk sinyal "permisi".

"Bagaimana bila naik motor?" Saya pernah bertanya ini pada Kak Erin.

"Jika berani jalan malam-malam, seharusnya mengucap tabe inggmiu mbu laika roroma, saat melalui tanjakan itu."

"Itu bahasa Tolaki?"

"Iya"

"Berarti?"

"Permisi tuan pemilik rimba rimbun."

Waktu itu saya memang tidak mengucap kalimat permisi. Saya tidak menggubris beberapa hal mistis. Lain dengan Brian yang yakin. Sayang, malam itu, ia lupa ucapkannya. Saya sendiri semakin yakin pada hal yang berbentuk teknikal. Saya percaya gir serta ratainya telah tua serta aus hingga girnya jadi tajam. Karenanya saya cukup jengkel dengan Brian yang menampik stop untuk mengubahnya.

Brian yang bawa motor sebab badannya jauh semakin besar dari saya. Sebelum masuk rimba, saya telah memberikan pendapat kepadanya untuk stop saat kami lihat bengkel di kota. Tetapi sebab takut kemalaman, Brian tidak ingin stop walau sebenarnya berasa sekali motor ini terganggu setiap saat meningkatkan kecepatan.

"Terus bagaimana ini?"

"Ada dua pilihan Bray. Kita balik seputar dua atau tiga kilo, di dalam rumah paling akhir perkampungan yang kita lalui, saya melihat ada bengkel atau jika ingin jalan lagi, semakin tujuh kilo kita geret motor ini baru dapat nemu perkampungan, ada bengkel disana. Jika saya sich nikmatnya yang semakin dekat saja kita balik, semakin logis sebab balik jalannya turun. Jika lanjut bermakna semakin lebih banyak mendaki."

"Jangan Dho, ampun telah takut sekali. Lebih bagus saya geret motor ke atas."

Selama perjalanan yang menjadi berat sekali itu, sebetulnya Brian telah lihat serta merasai yang aneh-aneh. Contohnya, Brian mencium berbau melati, sesaat saya tidak. Beberapa mtr. selanjutnya, sebenarnya ia telah lihat kuntilanak. Satu kali lagi, saya tidak menyaksikannya.

Walau sebenarnya selama jalan, Brian cuma lihat lurus ke depan sebab takut, tetapi kok dapat lihat penampakan? Saya pikir dia hanya paranoid sebab saya benar-benar tidak mencium berbau melati atau lihat kuntilanak.

Saya sebetulnya ingin menampik pilihan tidak logis itu tetapi sebab selama jalan sebenarnya Brian telah ketakutan, tetapi pada akhirnya saya menyanggupinya. Daripada berdiskusi terus tidak usai serta malam makin larut.

Malam itu gelap, langit diselimuti awan hingga. Sinar bulan susah tembus awan serta kabut yang mulai turun. Sebab jalan rimba, telah pasti tidak ada penerangan. Benar-benar jarang-jarang ada kendaraan melalui. Jarak pandangan kami cuma 5 sampai 7 mtr..

Di selama jalan kami bergantian menggeret motor. Keringat telah membasahi semua badan walau temperatur benar-benar dingin. Serta saya lihat badan Brian seakan keluarkan asap. Tatap muka temperatur dingin dengan panas badannya yang sedang berusaha menggeret motor jadi uap.

Saya, yang pada awalnya tidak memikir beberapa macam, mulai merinding . Pemikiran masalah penampakan pocong serta kuntilanak mulai ada. Pemikiran itu mulai ada sesudah kami melalui Teritori rimba sawit yang tidak besar. Tidak paham mengapa, rimba sawit itu mendatangkan perasaan aneh.

Betul saja, sebab gelap serta berkabut, saat ada "satu benda" yang kontras, contohnya berwarna putih, tentu nampak jelas. Saat melihat mengarah kiri, di kedalaman rimba sawit, saya lihat pocong seperti melekat ke pohon. Tidak cuma satu tetapi tiga!

Karena sangat takutnya, saya hanya dapat mengatakan lirih: "Pocong! Tidak hanya satu, Bray, ada tiga!"

Saya pernah takut Brian akan turut melihat lalu lari sebab takut. Tetapi, ia tidak melihat, pandangannya lurus ke depan. Mendadak, ia justru menanyakan:

"Dho, kamu cium berbau melati?"

"Tidak Bray," jawab saya bohong. Kesempatan ini saya mencium berbau wangi melati. Perasaan merinding makin jadi. Jantung saya berdetak makin cepat hingga napas saya tersengal-sengal.

Saya lihat mulut Brian komat-kamit seperti membaca doa. Saat ini saya ketahui mengapa ia tidak melihat saat saya katakan ada pocong. Sedikit cukup ke depan, Brian telah lihat kuntilanak duduk di dahan pohon besar.

Saya dapat lihat secara jelas seorang wanita kenakan pakaian putih duduk di dahan. Rasa-rasanya makin mengerikan sebab kami tidak dapat menghindar. Ingin lari mustahil, ini rimba serta ditengah-tengah gunung. Perkampungan masih jauh di muka. Ditambah lagi bila putar balik, ada 3 pocong yang telah menanti di pinggir rimba sawit. Kuntilanak di muka, pocong di belakang. Lengkap.

Kaki saya mendadak jadi berat serta oksigen seakan malas masuk dalam paru-paru. Saya mulai sempoyongan walau sebenarnya saya berjalan kaki tanpa ada beban, cuma bawa badan langsing saya. Sedang Brian yang gemuk serta sedang menggeret motor tetapi seperti tidak kecapekan, justru cara kakinya makin cepat. Entahlah darimanakah tenaganya?

Saya serta Brian membulatkan tekad berjalan melalui pohon itu. Kami tidak berani lihat kuntilanak itu. Tetapi kamu paham.kamu mengerti jika "ia" masih disana. Sesudah berjalan beberapa mtr., kami dengar suara motor.

Ternyata Tuhan masih sayang kami. Seorang bapak-bapak berani sekali masuk rimba. Ia baik hati menolong kami menggerakkan motor sampai perkampungan masyarakat. Serta bapak ini menolong mendobrak satu bengkel yang telah tutup. Saya pernah memikir, apa ya pocong menyaru jadi seorang bapak-bapak serta naik motor. Horor, walau cukup menggelikan.

Mujur bengkel itu bersatu dengan rumah pemiliknya. Selekasnya kami mengubah rantai serta gir motor walau tidak original yang perlu kami dapat pulang ke desa.

Sesampainya di dalam rumah, Brian akui telah lihat 3 pocong yang saya melihat. Tetapi tidak berani lari sebab di muka telah dinanti kuntilanak. Saya menanyakan mengapa ia tidak lari.

"Kampret, berapakah jauh saya dapat lari dengan tubuh ini. Saya mengharap kamu tidak pocong atau kuntilanak sebab jika kamu melihat, saya takut kamu lari ninggalin saya. Tidak mungkin saya dapat kejar kamu."

Kami berdua ketawa terlepas sebab rupanya kami berpikir sama waktu itu. Saling takut jika sampai ditinggal sendiri.

Minggu kedepan saya ada kerjaan yang mewajibkan saya tiba lagi ke kota. Apesnya Brian tidak ingin turut, tuturnya masih trauma. "Kamu balik sore saja. Jika kemalaman lebih bagus nginap di Kendari," pendapat Brian.

Pada akhirnya saya sangat terpaksa pergi sendiri serta merencanakan bermalam di dalam rumah rekan saya di Kendari. Apesnya, telah merencanakan bermalam, rupanya kawan mengajar minta saya untuk menggantinya keesokannya. Jadi, saya harus balik malam itu , sendirian melalui "sarang" pocong serta kuntilanak.

Di perjalanan saya langsung berasa ada yang tidak beres dengan motor saya. Rantainya kok seperti tersendat-sendat. Kemungkinan sebab gir serta rantainya tidak ori. Saya paksakan saja jalan pelan-pelan.

Saat datang di tanjakan seram itu saya menjelaskan "Tabe inggmiu mbu laika roroma," serta mengubah gigi motor jadi gigi satu, selanjutnya tancap gas.

"Ctak…." mendadak rantai motor saya putus lagi dalam tempat sama, di saat yang sama dengan minggu kemarin.

Sialan….