Rabu, 03 Juni 2020

Membongkar Rahasia Petugas Call Center Bisa Tahan Dengerin Makian Pelanggan


Kemungkinan Erich Fromm sempat menulis buku yang punyai judul gagah: The Art of Listening, tetapi haqul percaya ia tidak pernah memakai telinganya seekstrem beberapa orang yang saya ajak bicara belakangan ini.

Mereka ini adalah orang yang mempersembahkan diri untuk siap sedia dengarkan sambatan untuk sambatan orang setiap harinya. Terlatih terkena geram atas kekeliruan yang kemungkinan tidak dilaksanakan dengan cara langsung. Yak, siapa lagi jika bukan almukarom… petugas call center.

Semenjak awal saya meletakkan kepercayaan jika keinginan panggilan interviu yang saya kerjakan bisa menjadi peristiwa yang membosankan.menjengkelkan untuk mereka. Tetapi, perkiraan saya kelihatannya salah semata.

Orang pertama yang saya ajak bicara ialah Fauzan. Sekarang ini ia kerja untuk salah seorang pimpinan team (arti semakin bagus yang dia ucap: tim leader) di perusahaan penyuplai layanan konsumen service.

Tujuh bulan lalu, sebelum jadi pimpinan team, Fauzan tetap jadi seorang agen. Kerja untuk agen di perusahaan tempat dia kerja berarti dia jadi orang di garis depan yang melakukan komunikasi dengan keluh kesah konsumen setia. Entahlah lewat live chat, e-mail, atau lewat sambungan telephone.

"Kira-kira saya dahulu kerja untuk agen semasa setahun. Jika untuk sisi call center saya hanya sebulanan," jelas Fauzan cukup malu.

Dari keterangan Fauzan, saya baru mengetahui jika di dunia call center, ada level kesusahan yang berlainan seperti orang main game. Petugas call center yang mengurus keluh kesah konsumen setia lewat e-mail atau live chat dapat disebut semakin gampang daripada lewat telephone.

Laporan keluh kesah lewat telephone umumnya diambil oleh konsumen setia yang merasakan permasalahan serta ingin lekas-lekas memperoleh jalan keluar. Tak perlu ba-bi-bu harus menanti balasan e-mail atau chat.

Saya dapat memikirkannya. Keluh kesah konsumen setia lewat telephone yang perlu direspons sak–dek–sak–nyet memang memerlukan kemampuan bacot level dewa. Jika lewat e-mail atau live chat, petugas call center kemungkinan dapat mikir dahulu serta membenahi kalimat yang cocok untuk memberi respon keluh kesah konsumen setia. Ini tidak berlaku buat panggilan telephone.

Daus, orang ke-2 yang saya telephone juga membetulkan hal itu. Seorang Sales & Pemasaran di Ruangguru. Di tempatnya saat ini dia bertanggungjawab atas pertambahan konsumen setia dengan menghubungi calon-calon yang potensial. Di lain sisi, Daus harus juga siap sedia jadi tempat penerima keluh kesah dari konsumen setia yang sudah ia peroleh awalnya.

Sebelum kerja di Ruangguru, Daus sudah punyai pengalaman kerja untuk konsumen service semasa 4 tahun di sejumlah perusahaan dengan client perusahaan transportasi serta pasar place.

"Umumnya orang yang baru gabung perusahaan serta belum mengetahui medannya semacam apa akan terkejut. Di dalam rumah tidak biasa dimarah-marahi terus jadi baper. Jika contohnya kita orangnya loyo lembut tentu ia cemas sama dirinya. Kelak ujung-ujungnya tentu nangis."

Pada awalnya Daus mengatasi keluh kesah lewat e-mail, tetapi saat ada beberapa panggilan masuk melewati kemampuan, ia diperbantukan untuk terima panggilan. Mampuuus. Serta dapat ditebak, Daus sendiri akui cuma kuat semasa setahun dengarkan cacian beberapa client lewat telephone.

Saat saya menanyakan seberapa banyak panggilan yang diterima Daus sehari-harinya, jawabannya benar-benar buat kicep. "Umumnya minimum 60 panggilan. Ini benar-benar sepi. Jika terbanyak ya lebih dari pada 100 setiap harinya."

Kemungkinan buat beberapa petugas call center jumlah itu adalah jumlah yang lumrah. Namun, buat saya yang serta sering menonaktifkan contreng biru di WhatsApp—karena buat kuatir, jumlah itu benar-benar fenomenal.

Coba kita kalkulasi: bila pada sebuah tahun ada seputar 300 hari aktif kerja, bermakna: 300 hari x 60 panggilan = 18.000 panggilan/pertahun. Ntap!

Pada sebuah tahun ada seputar 18.000 panggilan sambat yang sudah Daus terima. Waktu saya mengatakan jumlah hitung itu, Daus katakan jika dia baru nyadar banyaknya sekitar itu. "Cukup panas ya telinga saya jika demikian."

Jumlahnya konsumen setia yang merintih serta maki-maki itu buat pekerjaan jadi makin berat, tapi hal yang benar-benar tidak membahagiakan buat Daus ada prank–call. Arti ini mengacu pada panggilan yang demikian diterima didalamnya cuma maki-maki tanpa ada fakta yang pasti lalu selanjutnya ditutup oleh sang penelepon. Entahlah sebab memang benar-benar geram atau sebab iseng saja.

"Sebenarnya kan ada banyak masalah keluh kesah yang memang seharusnya diatasi oleh beberapa sisi serta perlu waktu beberapa hari. Disana umumnya konsumen setia tidak mau tahu. Saat rupanya kesabarannya habis serta ia merasa kalau diremehkan, memungkinkan lah jika di telephone setelah itu ia langsung maki-maki Ana," jelas Daus. "Tetapi belum afdol jika jadi CS tidak pernah terima panggilan seperti begitu."

Kadang, tidak semua panggilan semacam itu dapat diatasi oleh sang agen. Disini orang dengan tempat pimpinan team seperti Fauzan harus turun tangan.

"Dapat disebut saya saat ini kalau ngadepin konsumen setia, tentu keadaannya sudah geram sekali begitu lah sebab permasalahannya tidak beres dari agen."

Rahasia yang dapat Fauzan bagi untuk mengatasi orang yang demikian muntup-muntup geramnya sampai memaki-maki penuh busa adalah…

…cukup didengar saja.

Umumnya, kata Fauzan, orang yang telah geram-marah itu cuma akan mengatakan permasalahan yang ia jumpai di kalimat awal. Habis itu didalamnya hanya akan geram-marah saja serta tidak ada langkah yang lebih baik kecuali cuma dengarkan supaya tidak turut terpancing emosi.

"Dapat terkena pinalty jika CS turut terpancing. Boro-boro emosi balik, jika ada CS yang diketahui lupa dengan inti permasalahan yang ditemui konsumen setia lalu bertanya lagi permasalahan yang ditemui serta buat konsumen setia geram, sudah akan terkena peringatan tercatat dari atasan," jelas Fauzan.

Saya jadi ingin tahu, kok ada ya orang yang dapat kuat mentalnya hadapi kemarahan untuk kemarahan konsumen setia saban hari? Daus, yang pengalaman di dunia per-CS-an masuk dalam tahun ke-5 tahun ini sedikit share pandangannya.

"Ya, tidak tahu ya, Mas. Ada yang bertahan sebab keperluan finansialnya telah tergantung dengan pekerjaan ini ada pula yang sebab spirit. Saya ini sepertinya sebab spirit sepertinya. Hehe…"

"Spirit Mas Daus itu dengarkan kemarahan orang?" bertanya saya ingin tahu 1/2 modiyar.

"Ya bukan. Saya tuch berasa senang saat dapat menolong mengakhiri permasalahan yang ditemui seseorang."

Oh, kirain.

Dengar jawaban itu saya langsung mbatin. Jika memang jawaban itu betul, bermakna jadi petugas call center atau jadi aktivis itu tidak berberlainan sangat. Percaya telah, jika kamu menderita savior complex, pasti kamu dapat kerasan serta telaten di ke-2 bagian ini.

Meskipun begitu, Daus akui saat itu dianya cukup santai kerja untuk petugas call center. Serta, seringkali ia ambil lembur barang dua jam satu hari dengan fakta "lagi gabut".

Saat Daus narasi itu, saya pikirkan Daus cukup melebih-lebihkan ceritanya. Hingga kemudian saya baru sadar jika percakapan kami di telephone telah capai lebih satu jam, walau sebenarnya saya hanya meminta izin ke ia untuk bercakap barang 10-15 menit.

Di titik berikut saya sadar, Daus rupanya tidak melebih-lebihkan. Ia menunjukkan baru saja, jika beberapa manusia memang dilahirkan dengan ketahanan bicara serta dengar di atas rerata manusia normal. Termasuk—mungkin saja—ketika harus dengar cacian orang.