Kiai Masrur dari pertama diskusi telah suka membawa-bawa
kalimat ‘menurut Allah' berulang-kali untuk hal yang karakternya ijtihad.
Diskusi jadi panjang pada akhirnya.
Berlangsung pembicaraan hebat di antara Kiai Masrur dengan
Gus Sobar. Bukan pembicaraan penting sebetulnya, tetapi Kiai Masrur serta Gus
Sobar saling ngotot masalah apa Neil Amstrong beneran sempat ke bulan atau
belum. Kebetulan ada Gus Mut di tengahnya pembicaraan itu. Terjerat dalam
pembicaraan yang tidak kualitas-mutu sangat itu.
"Masih tidak kemungkinan, Bar, Sobar. Nabi Muhammad
saja yang manusia pilihan harus dijemput Malaikat Jibril untuk dapat terbang ke
langit. Lah kok ini ada manusia yang sudah tidak Islam ealah justru dapat
sampai ke Bulan. Ditambah lagi menurut Allah itu Bulan tempatnya berada di
langit lapis ke-4," kata Kiai Masrur ngotot.
"Ya kemungkinan dong, Pak Kiai," kata Gus Sobar
enjoy.
"Tidak kemungkinan. Itu pastinya akal-akalannya Amerika
saja, agar disangka untuk negeri yang hebat. Menurut Gusti Allah tidak
demikian, Bar," kata Kiai Masrur. Kesempatan ini dan diberi beberapa hadis
serta alasan supaya Gus Sobar ingin setuju.
Sebab saling ngotot, pembicaraan ini juga hampir tidak
berbuntut. Dari bakda Isya', pembicaraan panjang ini baru terlihat akan
menjumpai akhir seputar jam 3 pagi hari. Gus Mut yang berada di tengahnya itu
pilih mainan hape dibanding turut memeriahkan diskusi itu.
"Walah, ingin sampeyan katakan gimana-gimana Neil
Amstrong sampai ke Bulan itu tidak kemungkinan, Gus. Jika menurutku itu
benar-benar tidak kemungkinan," kata Kiai Masrur.
Di luar sangkaan, Gus Sobar yang dari barusan terlihat
ngotot langsung kendor.
"Ya telah jika menurut panjenengan itu tidak
kemungkinan. Alhamdulillah, pada akhirnya telah ada persetujuan," kata Gus
Sobar.
"Tujuannya apa ini? Sampeyan ngejek ya ini?"
bertanya Kiai Masrur tidak terima. Gus Mut yang telah terkantuk-kantuk jadi
terkejut.
"Bukan begitu, Pak Kiai. Intinya jika menurut
panjenengan itu mustahil ya telah, saya sepakat. Walaupun menurutku manusia
sampai ke Bulan itu tetep kemungkinan," kata Gus Sobar.
"Lho, lho, ini ingin ngajak diskusi lagi
sampeyan?" muntab lagi pada akhirnya Kiai Masrur.
"Bukan, bukan begitu, Pak Kiai. Ini telah betul.
Panjenengan katakan ‘menurutku' barusan itu pada akhirnya telah jadi betul.
Menurut panjenengan itu tidak kemungkinan, menurutku itu kemungkinan. Beres.
Setuju kita Pak Kiai jika opini kita tidak sama," kata Gus Sobar.
"Lah terus ngapain sampeyan dari barusan menyanggah
jika pada akhirnya hanya ini?" bertanya Kiai Masrur bingung.
"Gini, Pak Kiai. Panjenengan dari barusan itu katakan
mustahil menurut Gusti Allah, menurut Al-Quran menurut Hadis. Kan kita ini
saling tidak tahu menurut Gusti Allah yang beneran itu yang bagaimana?"
kata Gus Sobar.
Tiba-tiba meledak tawa Gus Mut yang hampir berjam-jam jadi
hanya jadi obat nyamuk antara Kiai Masrur serta Gus Sobar.
"Kamu ngapain, Mut? Kok mendadak tertawa. Dari barusan
repot mainan hape saja, mendadak tertawa. Ngejek saya ya?" bertanya Kiai
Masrur jadi sensi.
"Bukan, bukan. Maaf ini, dari barusan saya ini diem
agar tidak ikutan berdiskusi serta tidak bela salah satunya, tetapi kesempatan
ini saya setuju sama Gus Sobar, Pakde," kata Gus Mut yang menyebut Kiai
Masrur dengan panggilan "Pakde" walau tidak punyai jalinan darah.
"Masak pembicaraan hebat gini hanya disudahi sebab saya
katakan ‘menurutku', apa perbedaannya?" bertanya Kiai Masrur masih tidak
terima.
"Ya banyaaak perbedaannya, Pakde," kata Gus Mut.
"Tidak demikian beda perasaan," kata Kiai Masrur.
"Pakde tentu tahu kisah Sayyidina Umar dahulu, waktu
beliau masih sugeng sempat ada waktu tiap ketetapan Sayyidina Umar itu tetap
betul. Serta sebab karena sangat tetap betulnya, sampai dikultuskan sama teman
dekat-sahabat lainnya jika ketetapannya Umar itu ialah hadza khukmullah, ini
hukumnya Allah," kata Gus Mut.
"Ya iya, saya tahu kisah itu. Hubungan apa sama
pembicaraan ini? Di kisah itu kan tidak ada bicarakan masalah Bulan
benar-benar," kata Kiai Masrur.
"Bukan di masalah Bulannya, Pakde, tetapi di masalah
gagasannya Umar yang disamakan seperti jadi gagasannya Allah itu. Kan Sayyidina
Umar sempat katakan ‘la takulu hadza khukmullah wakulu hadza khukmu Umar,'
jangan ucap ini hukum Allah tetapi katakan ini hukumnya Umar," kata Gus
Mut.
"Iya, iya, saya tahu itu. Pak Kiai pasti juga
tahu," kata Gus Sobar.
"Ya, itu kan kisah masalah Umar supaya jika ketetapan
itu betul, karena itu agar itu menjadi hukum Allah, tetapi jika salah agar itu
menjadi kelirunya Umar," kata Kiai Masrur.
"Karena itu itu, saat Pakde katakan ‘menurutku', serta
bukan lagi menurut Allah, pembicaraan Pakde sama Gus Sobar itu menjadi usai.
Soalnya saling tidak gunakan nama Allah untuk jadi tameng opini pribadi
semasing," kata Gus Mut.
Kiai Masrur tersadarkan, ijtihadnya rupanya telah
keblabasan. Semakin buat menyesal lagi, pembicaraan ini sampai habiskan waktu
berjam-jam.
"Ya telah, ini kita sekaligus nungguin salat subuh saja
jika begitu daripada ketiduran terus justru bablas," kata Kiai Masrur.
"Subuhan jam 1/2 lima jika di sini," kata Gus
Sobar.
"Lah, Bar. Dasar salat kok gunakan jam begitu? Gunakan
jam istiwa' dong. Jangan jam normal begitu," kata Kiai Masrur.
"Ya tidak dapat begitu , Pak Kiai…"
"Lho, sampeyan ngajak diskusi lagi ini? Oke," kata
Kiai Masrur nantangin. Di luar sangkaan Gus Sobar juga justru melayani lagi.
Kesempatan ini Gus Mut tepok jidat sekalian berbisik lirih
ditelan suara pembicaraan Gus Sobar serta Kiai Masrur.
"Ealah, justru diskusi hal baru lagi. Woalaah, remoook,
remok."
