Rabu, 03 Juni 2020

Kita Nggak Berhak Menyuruh Pasangan Kita Mengubah Passion dan Seleranya




Dear, Mas Agus. Ini, Gus. Saya punyai pacar, sebutlah saja namanya Yuni. Ia teman satu organisasi di universitas. Kami telah pacaran seputar 2 tahun. Ia wanita pintar. Seorang penulis. Cuma perlu seringkali membaca tulisannya buat saya untuk selekasnya mengetahui jika saya jatuh hati padanya.

Fundamen untung, rupanya ia kok ya suka juga sama saya. Ya telah. Jadiin lah.

Gagasannya, sesudah saya lulus (mudah-mudahan tahun ini), kami akan langsung menikah. Kebetulan saya telah punyai pekerjaan untuk pengelola satu toko online onderdil sepeda, jadi sesudah lulus kelak, Insya Allah saya telah punyai bekal buat membentuk keluarga bersama-sama Yuni.

Nah, kegundahan yang saya alami ini berkaitan dengan solidaritas kami sejauh ini.

Ini, saya punyai kawan sepermainan, Wawan namanya. Saya serta Wawan ini semenjak telah bersahabat semenjak SMP. Serta semenjak SMP juga kami jadi fans team sepakbola kota kami. Hampir tiap dua minggu sekali saya serta Wawan tentu meluangkan diri untuk tiba ke stadion untuk melihat team kecintaan kami.

Nah, Wawan ini punyai pacar, namanya Indri. Saat lihat jalinan di antara Wawan serta Indri, saya berasa ada seperti kecemburuan. Bukan cemburu dalam makna saya senang sama Indri lho ya. Tetapi cemburu sebab Wawan serta Indri dalam pandangan saya semestinya pasangan yang betul-betul sevisi. Hal yang sejauh ini entahlah mengapa tidak dapat saya dapatkan dalam jalinan di antara saya serta Yuni walaupun saya percaya kami sama-sama menyukai.

Wawan serta Indri, contohnya, saling senang bola. Jadi jika tonton bola ke stadion, Wawan tetap ajak Indri. Rasa-rasanya bahagia sekali dapat melihat bola bersama-sama kecintaan. Hal yang tentunya tidak dapat saya alami karena Yuni tidak senang bola.

Wawan serta Indri satu nafas di dunia yang mereka tekuni sekarang ini: seni. Baik Wawan atau Indri saling aktif dalam sanggar seni. Wawan aktif untuk salah satunya penulis naskah drama, sedangan Indri ialah pemainnya.

Tidak cukup disana, di dunia usaha juga, kedua-duanya sesuai. Sejauh yang saya ketahui, mereka membikin seperti usaha bersama-sama di bagian bikin offset, Kebetulan kedua-duanya saling dapat mendesain. Wawan ngelayout sedang Indri semakin dekat ke contoh.

Rasa-rasanya enak benar lihat 2 orang ini.

Nah, kecemburuan itu entahlah mengapa makin jadi membesar bersamaan dengan semakin dekatnya tanggal pernikahan saya serta Yuni.

Saya ingin sekali katakan sama Yuni supaya ia ingin berusaha untuk menyenangi sepakbola, atau minimal coba menyenangi dunia sepeda supaya bisa dekat sama pekerjaan saya. Tetapi saya masih bimbang bagaimanakah cara mengawalinya.

Mungkin Sampeyan ada pendapat, Gus.

~Indra.

Dear, Indra.

Langsung, ya. Saya tidak ingin berbasa-basi dengan curhatanmu ini.

Kamu dapat memperoleh wanita yang ingin sama kamu saja itu sangat mujur. Tidak banyak lelaki yang dapat memperoleh wanita yang, minimal menurutmu, pintar seperti Yuni. Jadi, kamu tidak perlu mencemburui jalinan "indah" di antara kawanmu Wawan dengan Indri.

Kamu tidak punyai hak untuk minta Yuni supaya menyenangi sepakbola atau sepeda. Memangnya kamu ini siapa? Kamu itu secakep apa? Setajir apa? Sesaleh apa? Kok sampai berani-beraninya mengendalikan wanita supaya menyenangi hal yang kamu gemari.

Ini. Sepasang kekasih itu tidak selalu harus punyai hasrat yang sama. Malah ada ketidaksamaan itu jadi bumbu yang bagus dalam jalinan. Ditambah lagi jika hubungan level pernikahan.

Pernikahan semestinya dapat jadi tempat untuk sama-sama melepaskan pasangan menyenangi apakah yang ingin dicapai oleh pasangan. Bukanlah justru sama-sama memaksa. Jangan egois. Pikirkan, Yuni tidak senang bola, trus kamu ajaknya tonton bola. Begitu ia akan jemu serta teraniaya semasa ada di stadion sebab dia tidak dapat nikmati apa saja. Apa ya kamu tega?

Wawan serta Indri bisa jadi memang punyai beberapa persamaan, tetapi saya percaya, ada beberapa titik lainnya dimana mereka berdua punyai ketidaksamaan. Hanya kebetulan yang kamu melihat ialah yang selalu sama juga.

Jangan sampai mengendalikan hasrat kekasihmu. Kamu tidak memiliki hak.

Diamkan ketidaksamaan itu masih ada pada jalinan kalian. Malah dengan itu kalian dapat belajar untuk mengendalikan toleransi, mengelola waktu, mengendalikan perasaan.

Ingat, kamu bukan siapa-siapanya Yuni. Kamu hanya pacar yang sesaat lagi jadi suaminya. Tidak kurang. Camkan itu.

Jika kamu ingin menikah dengan seorang yang menyukai bola, senang tonton di stadion, senang sepeda serta kuasai beberapa hal mengenainya, tidak perlu nikah sama Yuni. Nikah saja sama diri kamu sendiri. Kelak cocok ijab kabul, agar kamu duduk sebelahan sama ari-arimu sendiri.

Ah, bedebah. Emosi sendiri saya jadi.